Ruang Untuk Pulang
Karya: Olivia Luju Wea NdenaSederet kata yang entah kutahu
ke mana arahnya akan bermuara.
Pulang.
Kata yang tak asing di telingaku,
namun selalu membuat langkahku ragu
untuk beranjak menuju arahnya.
Aku tak tahu
langkah apa yang harus kubangun
untuk kembali kepada diriku yang dahulu.
Semuanya tampak seperti pelangi
yang perlahan mulai pudar,
kehilangan warna,
bahkan nyaris tak lagi memiliki arti.
Langkah awal yang dahulu begitu pasti,
kini mulai dipenuhi ragu.
Tekad yang pernah kurakit dengan begitu kokoh,
kini perlahan retak dan rapuh.
Yang kutahu,
diriku sedang berkelana
entah mencari siapa,
entah mencari ke mana,
atau mungkin sedang mencari
siapa diriku sebenarnya.
Sempat kutanya kepada diri sendiri,
ke mana perginya percaya diri
yang dahulu kugenggam begitu erat?
Entah mengapa,
yang sedang kujalani saat ini
terasa bukanlah diriku.
Percaya diri yang dahulu
menjadi cahaya dalam genggamanku,
kini seakan menciptakan jarak
di dalam diriku sendiri.
Kapankah aku akan pulang
dan mengambil kembali
kepercayaan yang pernah menjadi milikku?
Yang kutahu,
aku sedang kehilangan sesuatu
bukan seseorang,
melainkan jati diriku sendiri.
Aku ingin pulang.
Ingin meraih kembali
segala sesuatu yang pernah kususun,
layaknya menara yang dibangun perlahan:
batu demi batu,
dari dasar hingga mencapai puncaknya.
Sebab, yang kutahu,
pulang selalu memiliki arti
di setiap sudut hati.
Selalu ada ruang rindu
yang diam-diam menarik langkahku
untuk kembali
ke pelukan diriku sendiri.
Maaf untukmu,
atas setiap langkah yang sempat ragu,
atas setiap tekad yang perlahan rapuh,
dan atas dirimu yang sempat kehilangan arah.
Namun kini aku sadar,
segala sesuatu pada akhirnya
akan kembali kepada semulanya.
Aku hanya perlu berdamai,
belajar menerima,
dan perlahan memperbaiki
apa yang sempat retak di dalam diri.
Karena akan selalu ada
ruang yang nyaman
untuk menarikmu pulang
ke pelukanmu sendiri.
Terima kasih untuk diriku
yang sempat redup,
namun tak pernah benar-benar padam.
Terima kasih
karena di tengah perjalanan yang panjang,
kau selalu menemukan cara
untuk memeluk dirimu sendiri,
agar tak pernah benar-benar kehilangan arah
untuk pulang.
Mari kembali
kepada versi pelangi
yang selalu bersinar,
meski tak semua mata
mampu menyadari keindahannya.
Sebab keindahan
tak selalu tentang apa yang tampak dari luar;
terkadang, ia tumbuh diam-diam
di dalam diri,
menjadi cahaya
yang hanya dapat dirasakan
oleh hati yang mau menerima.
Dan kini,
pulang,
kutunggu langkah pastimu.
Bukan untuk kembali menjadi
dirimu yang dahulu,
melainkan untuk menemukan
dirimu yang baru
lebih utuh,
lebih kuat,
dan lebih damai
dengan segala luka
yang pernah membentukmu.
Kupang, 05 September 2026