Hutan Luas Bernama Rindu

Karya: Ni Luh Eka Septiani


Semut-semut tanah berbisik kepadaku,
bertanya mengapa aku tetap berdiri.
Aku tersesat
di rimba hatimu.
Tanpa jalan setapak, tanpa pegangan.
Pernah kusimpan asa
bahwa suatu hari,
kepompong yang kita rawat bersama
akan menjelma kupu kupu yang indah,
bahwa biji yang kita tanam
akan tumbuh dan berbuah lebat.
Namun perlahan hutan kita kehilangan warnanya.
Yang tersisa hanya semak rindu,
dan kayu kering yang menyimpan banyak kenangan.
Maka aku akan pergi,
memeluk bagian diriku yang sempat kutinggalkan,
berdamai dengan akar-akar pohon itu.
Tanpa menoleh,
pada kenangan yang tergantung di dahan,
pada sayap kupu-kupu
yang rapuh.
Aku pergi,
meninggalkan asa yang tak sempat terbang,
menyisakan aroma tanah basah yang sunyi.
Aku pergi,
memungut kembali satu per satu serpihan jiwaku
yang sempat tersesat dalam hutan rindu itu.
Dan kini,
semut-semut tanah tidak lagi bertanya.


Bali, 30 September 2026