Antara Aksara yang Tertinggal dan Jejak yang Asing.
Karya: Meysah NabilaKau pergi ketika senja belum selesai
menyulam jingga di bibir cakrawala.
Meninggalkan aksara di meja kayu,
aroma hujan, dan secangkir doa
yang masih mengepul di antara jemari.
Sejak itu, langkahmu hanya kutemukan
pada bayang-bayang yang lekas pudar.
Sesekali angin membawa kabar,
sesekali malam mengembalikan namamu
dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Aku pernah menitipkan prΔrthanΔ
pada langit yang sama:
semoga mΔrga-mu selalu teduh,
meski mataku tak lagi tahu
di mana kakimu berlabuh.
Kini, aksaramu perlahan memucat.
Jejakmu pun belajar menjadi asing.
Barangkali begitulah cara waktu
mengajarkan seseorang untuk pergi—
tanpa benar-benar membawa
segala yang pernah ditinggalkan.
Bogor, 21 Juli 2026