Sebelum Berjejak

Karya: Fellycia Putri


Teh yang selalu diseduh pagi,
kini tak berkabut.
Entah sudah berapa lama
ia di sudut meja itu,
berdebu dan rapuh.

Pun cermin di samping kasur,
membayang wajah
yang enggan mengenal wajahku,
—dan bayangku.

Begitu pula mentari,
sudah tak pernah singgah di jendela.

Lalu bagaimana dengan kaki ini?
Bersediakah ia menumpu pada bumi
untuk lari?
Sebab tiada lagi mimpi
di bawah kasurku,
dan di telapak tanganku.

Maka bergegaslah lari

sebelum fajar mengetuk pintu,
sebelum cermin tak sengaja mengenalku,
sebelum cangkir teh mengingat ukiran namaku,
sebelum jendela mengikat bayangku.

Bergegaslah lari,
hingga kecil dan lebur
diterbangkan angin.


Banjarmasin, 30 September 2026