Muara yang Mengingat Sungai
Karya: Fadly ArosyidKulayarkan hidup menuju laut yang tak bernama,
membiarkan angin membawa perahu cita-cita.
Namun, di balik riuh ombak yang memecah senja,
ada dermaga lama yang tak pernah kehilangan cahaya.
Di saku waktu, kusimpan suara yang tertinggal,
sapaan dari halaman yang dulu begitu kekal.
Ada tawa yang masih menggantung di ambang senja,
meski pemiliknya entah telah berubah di mana.
Aku pernah mengira pulang adalah kekalahan,
seolah kembali berarti gagal dalam perjalanan.
Maka kubiarkan langkah menjauh tanpa tujuan,
hingga lelah mengajariku arti sebuah kehilangan.
Kini, setiap senja menyalakan warna yang sama,
aku melihat rumah melalui jendela kenangan lama.
Ada jalan kecil yang dahulu kuhafal tanpa bertanya,
kini terasa seperti doa yang memanggil namaku perlahan.
Mungkin pulang bukan tentang kembali ke masa lalu,
sebab waktu tak pernah menyediakan pintu yang serupa.
Pulang adalah berdamai dengan segala yang berlalu,
lalu menerima diri yang pernah tersesat di sana.
Jika suatu hari langkahku sampai di halaman,
tak perlu sorak, tak perlu sambutan.
Cukup biarkan sunyi memeluk kepulangan,
sebab ada rumah yang tak pernah menghapus namaku
dari alamat yang masih menunggu sepanjang zaman.
Luwuk, 23 September 2026