Kerangka ku menolak runtuh

Karya: Fairuz Nurahmadiyani


Pelabuhanku runtuh, di terkam ombak yang tak
kenal ampun. Bangunannya hilang,
menyisakan kerangka yang berdiri sendiri
menahan luka

Wajah yang menyambutku hangat kini
membeku dalam bingkai, diam tak bersuara.
Separuh jiwaku ikut bersamannya.
Semua rencana yang telah ku susun harus
ku tata kembali dengan arah yang tak pasti

Aku masih menungggu, meski tahu ia tak akan
kembali. Mengapa harus dia yang pergi?
Mengapa tak aku saja?

Kini ku sadari, luka ini bukan milikku sendiri.
Ayahku pun kehilangan tempat untuk pulang,
seseorang yang selama ini menjadi teman
berbagi hidup. Kini ia harus berdiri seorang diri,
memikul peran yang tersisa

Kami menyimpan rindu masing-masing dalam
diam. tak saling bertukar tangis. Hanya
menatap bingkai yang sama.
Disini, kami merindumu selalu pelabuhanku.



Serang, 23 September 2026