Ketika Arah Kehilangan Utara, Cahaya Menjadi Penuntun

Karya: Annisa Febrianti Nurul Sipa


Kusimpan utara
di rongga waktu,
namun jarum-jarum malam
menjahit sesat pada setiap arah.

Peta menguning dalam ingatan,
garis-garisnya luntur
seperti nama yang dipanggil
terlalu lama oleh kesunyian.

Kususuri lorong kabut,
membawa sepi sebagai bekal,
sementara tanah mengulum
jejak yang enggan dikenang.

Lalu malam retak.

Dari celahnya,
seberkas cahaya jatuh
bukan sebagai arah,
melainkan kemungkinan.

Kusentuh tanah.
Dingin.
Namun sesuatu di dalamnya
masih menyimpan musim.

Mungkin pulang
tak pernah berada di ujung jalan
ia bersemayam pada langkah
yang tetap bernyala,
meski langit mencabut tanda.

Dan barangkali,
yang hilang bukanlah arah,
melainkan mata
yang terlalu lama percaya
pada satu cahaya.

Sebab ketika utara kehilangan makna,
yang tersisa bukan tersesat,
melainkan ruang
untuk menumbuhkan arah
dari telapak kaki sendiri.


Bandung Barat, 8 September 2026