layung memaksa malam

Karya: Aisya nurfadillah


bilang pada langit petang,
kalau kini aku mencintai langit malam.
karena pada langit ini,
aku hanya menyimpan rindu,
bukan impian sesaat disaat bertemu.

Hai burung hantu,
tak ada lagi merpati indah disore itu,
hanya berat didalam kalbu,
tentang layung yang kupaksa rindu.

Petang menulis sejarah dalam buku,
diri ikut merasakan rasa setiap ruangnya,
menjelma mimpi yang pernah diucapkan
dengan jejak yang seharusnya masih bersatu.

hingga...
langkah pertama beranjak,
menyusul langkah kedua, ketiga,
hingga langkah terakhir —
yang tak tampak lagi untuk dilihat.

Petang kehilangan warnanya,
tak lagi memiliki rasa indah,
menyusul malam yang membawa bayangan,
memeluk erat tubuh yang gundah gulana.

Di langkah perginya,
kusisakan ruang doa untuk bahagianya,
kusisakan ruang ikhlas untuk hatiku,
hingga diujung rindu,
kita bersua,
ditempat awal kita berjumpa.


Sambas, 18 September 2026