Dia adalah kesederhanaan yang penuh dengan warna-warni kehidupan
Karya: Ida Fitri ayu WardaniTerpuruk oleh malam, tentang cerita dongeng yang tak berujung, tentang rindu yang tak bertamu, tentang harapan yang tak tercapai, tentang cinta yang tak terbalas.
Kita seperti jalur kereta api, dua rel yang selalu beriringan, selalu berdampingan, selalu berjalan bersama, tetapi tak bisa bersatu.
Tidak ada yang berubah, tetapi ketika aku melihat ke belakang, semuanya berbeda. Dan terkadang, aku tidak bisa meninggalkan sebuah "kenangan", karena ia adalah pengingat akan sebuah cerita yang kita harapkan tak pernah berakhir.
Andai dulu kita tidak melibatkan rasa, mungkin sekarang kita akan baik-baik saja.
Seandainya aku tahu hadirmu hanya singgah, bukan menetap, mungkin yang kusediakan kopi, bukan hati.
Semuanya tentangmu, tentang kita yang ingin bersama, tetapi semesta tak kunjung memberi restu. Bukunya ku tutup
Aku harus berjalan mundur selangkah demi selangkah, sampai kau tak lagi terganggu oleh kehadiranku.
Masing-masing dari kita harus berhenti untuk saling menyakiti. Sekeras apa pun kita berusaha, pada akhirnya berujung perpisahan, ya. Perpisahan yang sengaja kita tunda.
Masing-masing dari kita harus berhenti
Terima kasih sudah memberi warna yang belum pernah kumiliki sebelumnya. Aku pamit pergi perasaan itu sudah berubah, waktu yang membawanya pergi.
Tuhan akan mengirimkan seseorang yang kelak melengkapi kekuranganmu, menjadi genap untuk keganjilanmu, dan menjadi indah untuk sesuatu yang indah, yang pada akhirnya diaminkan Tuhan untuk sebuah kebahagiaan.*
Jombang, 18 September 2026