Karya: Recil Marsya Thimoty Noman
Kau datang membawa sekotak kesetiaan yang rapi,
sementara di balik punggungmu, malam menyiapkan sebilah belati.
Aku menerima ketulusanmu yang ternyata palsu,
seperti sekuntum mawar yang menyembunyikan duri penipu.
Kini, di ruang tamu yang sunyi dan hampa,
aku memilih setia merawat luka yang kautinggalkan tanpa kata.
Setiap perih egois ini kunikmati sendirian,
menjadi monumen bisu atas sebuah pengkhianatan.
Cinta yang kaubunuh tidak benar-benar mati,
ia menjelma hantu yang setia mengetuk pintu hati.
Aku tidak mengutuk caramu pergi yang begitu kejam,
sebab dalam setiap robekannya, aku belajar meredam.
Kau adalah pengkhianat yang paling aku sayangi,
dan luka ini adalah kesetiaan yang enggan pergi.
Kita adalah sepasang asing yang abadi dalam kenangan.
Kupang, 16 Agustus 2026