Maaf, Ayah
Karya: Mutia Ayu KhumairohSuaraku bergetar di sela napas yang gusar,
ketika kubisikkan permohonan yang telanjur usang.
Aku telah melangkah mundur,
menukar sebaris setia menjadi serpihan yang hancur.
Kini, kepalaku dipenuhi gemuruh bising pertanyaan.
Apakah pintu rumah masih sudi menerima jiwa yang sesat?
Ataukah ruang di dalam sana telah terkunci rapat,
bagi anak yang berkali-kali memilih tersesat?
Ayah mendakwa dengan kata yang kurang ajar,
Ibu berpaling, menatap lantai dengan gelengan hambar,
dan Kakak lekas menutup pintu kamarnya,
menyisakan aku yang mendadak yatim dari segala hal.
Untuk sekali lagi.
Bolehkah aku yang tak tahu malu ini,
menuntut maaf dari-Mu, Tuhan?
Malang, 16 Agustus 2026