Rumah terakhir bernama setia
Karya: Haura Lintang Hanania𝐑𝐮𝐦𝐚𝐡 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐛𝐞𝐫𝐧𝐚𝐦𝐚 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚
Daun-daun kering tak lagi menepi di ranting pohon. Akar mengikat sunyi pada tanah. Namun, pohon ini tak lagi tampak muda. Akankah kursi yang meneduh di bawahnya tetap menetap?
Rayap-rayap mengikis perlahan kaki gagah kursi ini. Burung-burung meniti langit jingga sore itu. Mata hitam legam sosok itu saksi; ia sedang tertunduk atas sebuah pilihan. Sunyi sore itu, ia mengeja arti pulang. Bahwa tak semua yang menetap adalah kalah.
Daun-daun kering memang memilih pergi. Rayap-rayap memang mengikis kaki gagah itu. Namun, pohon tetap memeluk bumi, dan kursi tetap menjaga rumah terakhir bernama setia.
Bekasi