Setia dalam pelukan senja
Karya: M. Aofal KhuluqiDi ambang horizon yang melebur keemasan,
terhampar keindahan yang teramat megah—
sebuah panggung agung bagi sebuah perpisahan.
Luruh perlahan kehangatan dari jemarimu,
mendingin, seiring jingga yang membakar mayapada.
Dipeluknya tubuhku oleh kesunyian yang kaku,
saat bayangmu melangkah, kian samar meniti keabadian.
Betapa paradoks alam yang molek ini:
cakrawala menari dalam simfoni tembaga,
sementara di celah dadaku, gumpalan duka mengerak hitam.
Laksana sembilu yang dibalut sutra,
keelokan senja justru menyayat bilik ancala.
Angin berbisik merdu membawa ratap sang waktu,
menyeret jejakmu menuju celah malam yang gulita.
Tergugu aku dalam cengkeraman pesona yang membunuh.
Tak beranjak jua raga ini dari hamparan dingin,
menjelmakan kesetiaan menjadi monumen bisu—
terpaku, merengkuh sisa hangat yang kian tumpas
di pangkuan senja yang mangkat.
Jerowaru, 5 Agustus 2026