Sebuah Senyum yang Berkhianat
Karya: Harry Agus WandiKau datang dengan senyum selembut fajar,
mengajari hatiku percaya pada cahaya.
Tak kusangka, di balik lengkung bibirmu
bersemayam malam yang pandai menyamar.
Kata-katamu mekar seperti bunga,
namun akarnya diam-diam memelihara duri.
Aku meminum ketulusan dari telapakmu,
sementara dusta tumbuh di sela jemarimu.
Saat topeng itu jatuh,
yang pecah bukan cinta, melainkan keyakinan.
Sebab luka terdalam bukan berasal dari benci,
melainkan dari wajah yang pernah kusebut rumah.
Kini kutinggalkan namamu pada angin,
agar waktu mengajarkannya menjadi debu.
Dan jika kelak aku tersenyum lagi,
semoga bukan karena lupa, melainkan telah sembuh.
Sei Rampah, 03 Agustus 2026