Bintang Lima di Tengah Banjir
Karya: Muhammad Hilbram SyaddamHujan turun membasahi jaket seragam yang sudah lusuh.
Di layar ponsel, titik GPS bergerak sangat lambat,
dipantau oleh jari-jari manikur yang aman di balik kaca jendela.
Setiap tetes air adalah denda keterlambatan yang tak kasat mata.
Kami memesan semangkuk kehangatan lewat aplikasi,
tanpa peduli siapa yang harus bertaruh nyawa
menembus genangan hitam berisi paku, sampah, dan oli.
Bintang lima yang kami berikan di akhir malam
takkan pernah cukup untuk mengganti paru-paru yang basah,
atau demam anak yang menggigil di rumah kontrakan.
Di kota yang memuja kecepatan ini,
kita membeli kenyamanan dengan harga murah,
dan dengan senang hati membiarkan orang lain
yang menanggung seluruh dinginnya.
Kuala Tungkal, 28 Juni 2026