Pada Setiap Senja, Ada Namamu
Karya: Dewi MauriskaDulu,
senja hanya kupandang
sebagai cara langit
mengakhiri hari
dengan tenang.
Jingga hanyalah warna,
temaram hanyalah jeda,
dan cakrawala
sekedar batas
antara terang dan malam.
Hingga semester
mempertemukanku denganmu.
Sejak saat itu,
setiap petang
tak lagi sekedar perputaran waktu.
Bukan pada jingga
yang mengendap di langit,
bukan pula pada cahaya
yang perlahan tenggelam.
Melainkan pada rasa
yang tak pernah gagal
menyebut namamu
setiap petang tiba.
Aneh memang.
Senja tak pernah
menaruh tanya siapa dirimu.
Namun setiap kali
ia menyapa cakrawala,
akulah yang selalu merasa
sedang menatapmu.
Barangkali,
cinta memang demikian.
Ia tidak menjadikan
senja lebih indah,
hanya membuat keindahan
memiliki satu nama
yang terus tinggal di ingatan.
Sejak itu,
senja tak pernah lagi
sekedar berwarna jingga.
Ia menjelma bahasa,
yang setiap petang
perlahan mengeja namamu.
Yogyakarta, 26 Juni 2026