Hujan yang Tak Kau Sentuh
Karya: Fanisa Dwi AryaniApa yang membuatmu begitu enggan
menyentuh hujan itu?
Apakah karena aku menentang Sang Pencipta,
atau karena tubuhku terlampau rapuh
untuk kauterima?
Padahal saat itu
senyumku baru saja tumbuh,
mekar bersama hujan
yang jatuh di halaman masa kecilku.
Lalu apa yang salah dariku?
Aku berlindung
di rumah yang tak begitu kokoh,
di antara dinding lembap
dan genteng yang gaduh
saat hujan mengetuknya berkali-kali.
Di mana letak pembangkangku?
Pernahkah kau pikirkan
bagaimana aku tumbuh
dari luka yang kautanam?
Seperti bunga
yang tak pernah tersiram hujan,
aku layu dalam penantian.
Seperti tanah
yang dibakar matahari tanpa ampun,
aku retak dalam kesunyian.
Aku lahir tanpa keutuhan.
Aku tumbuh bersama kehilangan.
Maka untuk kesekian kalinya,
izinkan aku hidup dengan tenang.
Bogor, 25 Juni 2026