Histeria Biru
Karya: Annisa Muharramia PurbaUlah jemari serakahmu adalah perundungan,
menyiksa mental bumi tanpa ampunan.
Panas egomu membakar ruang udara, mengikis kewarasan planet yang lara.
Lihatlah ke ujung selatan yang sunyi, es kutub mencair, hanyut membilas bumi.
Itulah simbol jiwa yang remuk redam, serpihan mental yang hancur dalam diam.
Sebab tak sanggup lagi menahan siksaan, dari trauma panjang yang kaulahirkan.
Kini tanggul kesabaran semesta telah jebol,
batinnya runtuh, tak lagi bisa berkontrol.
Ia meluapkan segala bentuk kepedihan, yang selama ini menyumbat kerongkongan.
Langit legam seketika pecah mendesing,
menumpahkan air mata riuh bergeming.
Hujan badai ini bukanlah berkah syahdu,
melainkan jeritan histeris dari bumi yang ragu.
Ia menangis, menuntut tebusan dosamu.
Medan, 20 Juni 2026