Ulpah Latipah Pahmi
Sedekat itu, Sejauh iniDi bawah langit yang pucat oleh hujan,aku masih menyebut namamu dalam diam yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Dahulu, matamu adalah rumah bagi segala resah yang pulang terluka, dan suaramu menjelma do'a yang menenangkan malam-malam panjangku.
Namun waktu bergerak seperti sungai, membawa hanyut segala yang pernah kita jaga. Kini hanya ada jejak kenangan yang berbau rindu dan kehilangan.
Barangkali perasaan memang memiliki usia,
ia tumbuh, mekar, lalu gugur tanpa mampu dicegah siapa pun.
Aku mencoba memungut kembali perasaan yang jatuh di sepanjang perjalanan, tetapi hatiku terlalu lelah untuk berharap kau
kembali menetap.
Mungkin benar, tidak semua cinta diciptakan
untuk tinggal selamanya.
Cianjur, 10 Mei 2026