Sausan Rana Fadhilah
Elegi di Tepian CakrawalaKita adalah dua titik yang bertaut dalam koordinat serupa,
namun terpisah jurang sunyi yang tak kasat mata.
Engkau laksana fatamorgana di hadapan netra,
tergapai oleh jemari, namun asing bagi sukma.
Napasmu menderu pelan, menghangatkan selasar tengkukku,
tapi labirin pikiranmu mengunci rapat pintu menuju pintu.
Ada jarak ribuan farsakh dalam setiap tatapan,
sebuah perlawanan takdir yang meniadakan persinggahan.
Aku memeluk bayangmu yang luruh di lantai pualam,
sementara jiwamu mengembara di palung paling kelam.
Layaknya rel kereta yang sejajar dalam kepasrahan,
berdampingan tanpa pernah mengecap manisnya penyatuan.
Kita abadi dalam ironi: sedekat nadi, sejauh matahari,
terperangkap di antara keriuhan dan sepi yang hakiki.
Bogor, 11 Mei 2026