Nafisya Mifta Nisrina

Menenun Sauh di Arus Deru: “Bayangkan Jika Kita Tidak Menyerah”

Di bawah langit yang luruh oleh air mata hujan,
kita adalah sepasang nakhoda yang menjahit retakan langit.
Jemari kita berpaut, mencoba menyulam luka agar menjadi peta,
sambil berbisik lirih: "Bayangkan jika kita tidak menyerah."
Dunia mungkin ingin kita karam dalam palung bisu,
namun detak jantung kita masih beradu dengan guntur.
Sebab perjuangan ini bukan tentang siapa yang paling cepat,
melainkan siapa yang paling keras kepala melawan nasib yang retak.

Ketika lutut nyaris remuk menyentuh tanah yang dingin,
bisikkan lagi di sela derasnya hujan dan deru angin:
"Bayangkan jika kita tidak menyerah."
Sebab jika berhenti sekarang, fajar akan kehilangan warnanya,
dan cerita kita hanya akan menjadi abu yang dilarung waktu.
Mari melangkah, menantang takdir yang pura-pura tuli,
hingga lelah itu sendiri merasa letih mengejar langkah kita.

Sragen, 13 Mei 2026