Karya: Hapisa Kartika Sari
Aku pernah mencintai sebuah nama
yang rumahnya hanya sepelemparan batu dari langkahku.
Namun, untuk mengetuk pintu hatinya,
rasanya lebih mustahil daripada menghentikan badai tengah malam.
Kami masih bertukar sapa di ruang yang sama,
menertawakan candaan-candaan hambar yang dipaksakan.
Tetapi garis takdir perlahan bergeser tanpa suara.
Tatapannya kini lekas beralih,
seolah aku hanyalah angin lalu yang tak lagi dinanti.
Dari sana aku mafhum,
bahwa jarak terjauh tidak pernah diukur oleh kilometer.
Sebab, seseorang bisa duduk tepat di sebelahmu,
menghirup udara yang sama, mendengarkan suaramu,
namun jiwanya telah mengembara ke pelukan yang lain.
Aku sempat bersikeras menggenggam remah-remah kenangan,
merawat sisa kehangatan yang perlahan mendingin.
Namun, waktu adalah guru yang paling kejam sekaligus bijaksana.
Ia berbisik bahwa tidak semua kebersamaan ditakdirkan untuk menetap.
Kini aku pasrah pada sunyi.
Ada rasa yang sengaja diciptakan semata-mata
untuk melatih jemari ini agar belajar merelakan.
Karena pada ujung cerita,
luka terdalam bukanlah tentang kehilangan yang tiba-tiba,
melainkan kenyataan bahwa raga itu masih berada di dekatku,
tetapi jiwanya tak lagi sanggup kuraih.
Palopo, 21 Mei 2026