Karya: Abdullah Khasan
Namamu menetap sedekat senja
pada tubuh cakrawala
tampak bersatu,
meski langit dan laut
tak pernah benar-benar saling tiba.
Hari-hari luruh seperti hujan
di kaca yang bisu,
dekat suaranya,
asing gaungnya.
Semesta rupanya gemar
menitipkan rindu
pada takdir yang tak utuh.
Maka jarak
tak lagi lahir dari langkah,
melainkan dari hati
yang saling mengitari
tanpa keberanian
untuk menjadi rumah.
Ada yang didekatkan
sekadar agar sunyi
memiliki bentuknya sendiri.
Dan kehilangan,
kadang tumbuh paling subur
bukan pada perpisahan,
melainkan pada kedekatan
yang tak pernah selesai.
Purwokerto, 20 Mei 2026