Karya: Yuliana Jahra
Kita sedekat rembulan dan langit—selalu berdampingan, lalu menciptakan keindahan dengan sendirinya. Dan kamu, ibarat rembulan yang datang lalu pergi ketika fajar tiba. Sedangkan aku akan tetap menjadi langit, yang selalu menerima kehadiranmu, meski tahu pada akhirnya kau hanya singgah.
Kita juga seperti rembulan dan laut; saling menarik dalam diam, saling memantulkan rindu dari kejauhan, namun tak pernah benar-benar mampu bersatu. Perlahan kita menjauh, seperti ombak yang kembali ditarik laut setelah sempat menyentuh pantai.
Katamu, ini demi kenyamanan kita berdua. Tapi nyatanya,
hanya kamu yang berhasil menemukan tenang setelah perpisahan itu. Sementara aku, menatap rembulan yang sama seperti malam ketika kita pernah saling terdiam di bawah langit. Dan sekarang, aku mengerti—ada beberapa rindu yang tidak diciptakan untuk selesai, melainkan untuk tinggal sebagai gema paling sunyi di dalam hati.
Bogor, 21 Mei 2026