Karya: Dhiazka Azfar Pranawa
Sungguh ironis bukan?
Di saat raga kita terjauh, hati kita terasa begitu dekat,
Sedang ketika kau hanya selangkah dari kamarku, jiwa kita begitu renggang.
Luka pendahuluku,
Justru menjadi alasanku tuk menjauh dari arahmu.
Ketika rangka dan mulutmu terkunci sakit,
Aku tak dapat mengakui ulahku yang pahit.
Sampai tiba kau bersatu dengan alam,
Aku bahkan belum memberi salam,
Namun ragamu sudah terpendam,
Sama dengan kata-kata yang kutahan.
Maafkanlah diriku yang egois,
membuat kasih sayang ini terkikis.
Berdiri kaku dalam keangkuhan diri,
Tak sempat membalas tulusnya cinta yang kau beri.
Sekarang ruh kita sudah berbeda dimensi,
Seluruh bumi telah menjadi rumahmu,
Jangan khawatir, kujaga dirimu didalam memori,
Berjemur di hangat matahari, laksana berada dalam pelukanmu.
Tangerang, 12 Mei 2026