Karya: Ibnu Fattah Husein
Setiap pagi
aku menatap bunga di depan rumahku.
Cahaya singgah di kelopaknya,
dan embun menggantung
seperti kata-kata
yang belum sempat diucapkan.
Aku selalu menghampirinya.
Kadang hanya untuk diam,
kadang berbicara pelan
kepada warna-warnanya
yang tak pernah meminta siapa pun menetap.
Saat ia layu
dan tanah di sekitarnya mulai kehilangan basah,
akulah yang datang membawa air.
Kusiram perlahan,
seolah dengan begitu
ia akan tahu
bahwa ada seseorang
yang diam-diam menjaganya.
Aku tak pernah tahu
apakah ia menyadari kehadiranku.
Atau mungkin tidak.
Mungkin baginya
aku hanyalah angin
yang lewat sebentar,
menyentuh kelopaknya,
lalu hilang tanpa sempat dikenang.
Namun aku tetap datang.
Setiap pagi.
Dengan harapan yang sama
bahwa suatu hari
saat ia mekar menghadap matahari,
ia sempat menoleh sedikit saja,
ke arahku.
Bekasi, 24 Mei 2026