Arawinda Candrakanti Iwana
Sinar Tak SampaiRembulan menetap diam di relung hati,
matahari setia menghangatkan hari-hari.
Dua cahaya yang tak pernah benar-benar pergi,
Ayah dalam kenang, Ibu dalam denyut nadi.
Di balik terangnya sinar,
waktu mengajarkan arti sebuah harapan.
Aku rindu pelukanmu, Ibu,
sentuhan tanganmu, serta tawa dari raut wajahmu.
Kehangatan yang pudar menjadi canggung,
cerita kita tak pernah lagi kubuat.
Kini kita kembali dalam satu atap yang sama,
namun jarak terasa berbeda.
Sunyi telah duduk di antara kita,
hati yang penuh cinta tak tersentuh rasa,
tak selalu hadir dengan cara yang dekat.
Namun, terang itu kini terasa redup perlahan.
Perasaan tak lagi utuh seperti dahulu kala,
tak salah jika aku menenun ulang kasih yang tersisa.
Ibu, akulah embun penerima kehangatan kasih sayang,
yang memilih untuk tetap pulang.
Pemalang, 3 Mei 2026