Sajak Kayu Jati
Karya: Nurbella Aprianti Rizkyna, S.PdDi dalam dada yang retak,
waktu menjejak tanpa lelah.
Setiap detik adalah bilah duri yang menusuk,
kala malam menumpuk beban di pundak basah.
Kepalaku adalah ruang tunggu bagi badai, tempat perih menjelma karat.
Namun di rusukku, ada api kecil yang menolak padam.
Aku tahu, bunga yang mekar kilat lekas layu, sementara jati harus menahun dalam tanah keras.
Biarlah kutempa diri dalam sunyi, sebab yang melalui jalan terjal tahu cara memeluk malam.
Aku merangkak dalam gelap tanpa mengeluh.
Di balik tirai dunia,
Sang Maha Sutradara tengah merajut plot twist terindah di ujung derita.
Tasikmalaya, 4 November 2026