RUANG YANG SELALU TERBUKA
Karya: Umriyatul ArifahPada hari di mana tiada kata acuh,
bagaikan cahaya yang setia memberi terang,
lalu meredup karena resahku sendiri.
Setangkai bunga hancur karena aku,
waktu yang berharga gugur sia-sia oleh keadaan ku
Sementara kau tetap menunggu,
tanpa satu pun jawaban dariku.
Benci, kecewa, sedih — semua karena aku.
Kau pulang sebagaimana kau datang,
mendekap bunga yang sama,
setelah penantian panjang tanpa kedatanganku.
Bukan, bukan karena aku menolak bunga indah itu,
Tetapi belum sempat di hari itu.
Aku ada, namun belum utuh,
waktu belum berpihak, keadaan belum memungkinkan.
Lalu pada malam itu,
saat kutatap dirimu, dadaku bergelombang,
seperti samudra yang tak mengenal henti.
Mataku hujan, hatiku mendung,
dan kau seakan enggan menatapku lagi.
Maaf, satu kata yang terus kuucap,
seribu penjelasan yang telah kau dengar,
dan itu menjadi bukti bagiku,
bahwa kau masih menerima aku yang retak ini
Mendung yang kuberi, akan kutebus menjadi birunya langit itu.
Di tempat yang menjadi penenang