Pecahan yang tak lagi ku cabut
Karya: Rindiani SafitriAku merasa dunia selalu melempari ku dengan pecahan kaca.
Setiap kali pecahan itu mengenai tubuhku, aku selalu meringis kesakitan. Pecahan-pecahan itu menusuk kulitku, meninggalkan luka yang tak pernah ku minta. Namun, setiap kali itu terjadi, aku selalu berusaha mencabut pecahan kaca yang menancap di tubuhku, meskipun terkadang usahaku justru membuat luka itu semakin besar. Setelahnya, aku berusaha mengobatinya, berharap luka itu akan segera sembuh.
Namun, dunia tak pernah berhenti melempari ku dengan pecahan kaca.
Hari demi hari berlalu, dan luka-luka baru terus bermunculan. Aku mulai lelah mencabut pecahan kaca yang menancap di kulitku. Aku terlalu lelah untuk kembali mengobati luka yang bahkan belum sempat sembuh sepenuhnya.
Hingga suatu hari, aku tak lagi meringis ketika pecahan kaca itu kembali mengenai tubuhku. Bukan karena rasanya tak lagi menyakitkan, melainkan karena aku sudah terlalu lelah untuk merasakan sakit yang sama berulang kali.
Perlahan, aku berhenti mencabut pecahan kaca itu. Aku berhenti mengobati luka-lukaku. Aku membiarkan pecahan-pecahan itu tetap menancap, membiarkan luka-luka itu terbuka, hingga seluruh kulitku dipenuhi pecahan kaca dan luka yang tak kunjung sembuh.
Luka-luka itu kemudian memburuk. Infeksi mulai menyebar, perlahan menjalar ke seluruh tubuhku. Semakin lama, tubuhku semakin lemah, seolah tak lagi memiliki kekuatan untuk bertahan dari semua rasa sakit yang telah menumpuk.
Hingga akhirnya, tubuhku tak lagi mampu menanggung semuanya.
Dan aku pun menyadari bahwa bukan hanya pecahan kaca yang telah menghancurkan ku, melainkan juga luka-luka yang terlalu lama ku pendam, rasa sakit yang terus ku tanggung sendirian, dan kelelahan yang tak pernah kuberi kesempatan untuk pulih.
Segedong,26 Oktober 2026