Sembilan Puluh Sembilan Kali
Karya: Aurelia NavratilopaKepalaku sakit
Mataku berkunang-kunang
Tarikan napasku kian pendek
Kesempatanku terasa kian menipis
Ruangan putih, dan lagi-lagi hanya diriku
Yang tak pernah bosan bercengkerama
Wewangian khas yang paling kubenci
Ditemani lauk-pauk hambar yang itu-itu saja
Denyut mesin lebih melengking daripada detak jantungku
Suaranya mengerucut tajam, sebuah pertanda
Panggilan untuk kembali ke alam tempatku pertama kali terlahir
Hamparan hijau yang teramat luas dan pias
Aku tersenyum
Seolah terlepas dari beban berat duniawi
Untuk pertama kalinya, sukmaku tidur dengan tenteram
Mungkin ia akan terbangun saat suara Ibu memanggil
Sejarah mungkin akan meninggalkan jejak
Namun tubuhku tak lagi mampu berlomba dengan waktu
Setelah sembilan puluh sembilan kali bertahan
Hari ini, aku menyerah sepenuhnya
Bangka, 26 Oktober 2026