Merawat Sisa Napas
Karya: Nurannisa Rahmadani AAku putri sulungmu yang sedang hilang arah, Papah,
lima tahun memeluk retak yang tak kunjung sembuh.
Di saat adik tumbuh kian dewasa,
aku masih tertatih, mengejar bayangmu yang terlepas.
Sering kali langkah ini terasa teramat berat,
hingga bisikan untuk menyudahi semuanya datang menyapa.
Namun bayangmu selalu hadir menahan jemariku
“Apakah Papah akan bangga jika aku menyerah?”
Aku tahu aku tak sekuat Mama,
tak pula sehebat adik yang mampu tegak berdiri.
Di balik senyum yang kubagi pada dunia,
ada separuh jiwaku yang runtuh dan rapuh.
Namun Papah, di dalam gumpalan luka ini,
aku masih memilih bertahan, hari demi hari.
Kupeluk sisa napas ini dengan sabar,
percaya ada takdir indah yang sedang menungguku di ujung jalan.
Bekasi, 23 Oktober 2026