“Pundak Yang Terlalu Cepat Dewasa”
Karya: muhammad alfarizzi al arsyad“Pundak yang Terlalu Cepat Dewasa”
Aku adalah anak tengah.
Bukan yang pertama dipanggil saat dibanggakan,
bukan pula yang terakhir dimanja.
Aku hanya jeda di antara dua nama,
yang tumbuh tanpa pernah benar-benar meminta untuk menjadi kuat.
Dulu, Ayah adalah langit.
Setiap pulang, rumah selalu terdengar utuh.
Suara tawanya mengusir sunyi,
langkahnya membuat kami percaya
bahwa besok pasti akan baik-baik saja.
Lalu langit itu runtuh.
Sejak hari itu,
kursi di ujung meja tak lagi berpenghuni.
Piring masih disiapkan,
tapi doa kami selalu berhenti di nama yang sama.
Aku tak ingat kapan tepatnya aku berubah.
Mungkin saat Ibu mulai menyembunyikan tangis di dapur.
Mungkin saat kakakku harus tetap terlihat tegar.
Atau saat adikku bertanya,
"Ayah kapan pulang?"
dan tak ada seorang pun yang sanggup menjawab.
Sejak itu,
aku belajar menjadi lelaki
bahkan sebelum sempat menikmati menjadi anak.
Tanganku yang dulu menggenggam buku,
kini menggenggam tanggung jawab.
Pundakku yang dulu ringan,
perlahan dipenuhi harapan orang-orang di rumah.
Banyak yang berkata,
"Kamu hebat."
Padahal mereka tak pernah melihat
betapa sering aku menangis sendirian.
Karena tulang punggung pun punya rasa sakit,
hanya saja ia tak punya waktu untuk mengeluh.
Aku iri.
Iri pada teman-teman yang masih bisa meminta uang saku,
sementara aku sibuk menghitung tagihan.
Iri pada mereka yang masih memanggil ayahnya saat bingung,
sementara aku harus menjadi jawaban
untuk kebingungan orang lain.
Tapi setiap kali ingin menyerah,
aku melihat Ibu.
Di matanya, ada lelah yang lebih tua dariku.
Di senyumnya, ada doa yang tak pernah selesai.
Dan di belakangku,
ada adik yang masih percaya
bahwa kakaknya bisa memperbaiki dunia.
Maka aku tetap berdiri.
Bukan karena aku tak ingin beristirahat,
melainkan karena rumah ini
tak boleh kehilangan satu pundak lagi.
Ayah,
aku tak pernah berniat menggantikanmu.
Tak ada yang bisa.
Aku hanya berusaha menjaga
agar rumah yang kau tinggalkan
tetap memiliki cahaya.
Meski langkahku sering goyah,
meski nafasku kadang sesak,
aku akan terus berjalan.
Sebab aku telah mengerti,
bahwa menjadi anak tengah bukan berarti berada di tengah cerita.
Kadang,
takdir memilihku berdiri paling depan,
menjadi benteng terakhir keluarga.
Dan jika suatu hari nanti mereka bertanya
siapa yang menjaga rumah ini ketika Ayah pergi,
biarlah angin yang menjawab pelan,
Tangerang, 19 Oktober 2026