Renjana Yang Luruh
Karya: Hanifa Atika ZakiyahDalam hening selalu ku sebut namamu,
Goresan pena menjadi awal rintisanku.
Kertas putih akan menjadi saksi bisu,
Atas perjalananku untukmu.
Waktu terus bergulir,
Membawaku berangan-angan tentang hari esok.
Walau kadang,
Selalu terlintas dalam benakku.
Apakah aku mampu?
Apakah aku akan tegar?
Banyaknya diksi yang kuciptakan hanya untukmu.
Tapi,
Kau seakan-akan berpaling dariku.
Namun,
Disaat diri ini merasa terpojoki.
Kau datang bagai rembulan yang bersinar di pekatnya malam.
Tapi,
Disaat aku ingin lebih dekat denganmu,
Kau lagi-lagi menghindar dan mengelak.
Oh...
Seharusnya aku tau,
Bahwa aku hanya sebatas teman di matamu.
Walau,
Aku menganggapmu lebih dari itu.
Mungkin,
Karsa ku akan berhenti sampai disini.
Karena,
Sang kemudi tau,
Kapan harus menurunkan jangkarnya di tentang badai.
Bahkan,
Sang surya pun tau,
Kapan ia harus membawa diri dari mega yang bergulung.
Pekanbaru, 18 Oktober 2026