Pada Muara yang Tak Menemukan Pulang
Karya: Gracellya Lisnawati TupaNamamu berdenyut di rahim waktu,
seperti doa kehilangan langit.
Kupeluk sunyi yang berlumut,
sementara dadaku menjadi reruntuhan.
Kau pernah menjadi hujan bagi kemarauku,
membasuh retak rahasia.
Namun, selepas reda, kau membawa musim,
meninggalkanku bersama nestapa.
Sejak itu, aku menua bersama kehilangan,
menghafal sepi dari pintu yang tak kau ketuk.
Masih kusisakan ruang bagi kemungkinan,
barangkali rindumu menemukan jalan pulang.
Aku sungai yang terus mengalir,
sedang laut tak menanti.
Kukikis diri demi harapan,
hingga lupa aku pun berhak disinggahi.
Kini kupahami, cinta bukan selalu memiliki;
kadang, ia mengajarkan kapan berhenti.
Ada cinta yang karam,
ada hati yang tinggal tanpa arah.
Pada muara yang tak menemukan pulang,
akulah sungai yang kehabisan arah
masih mencintaimu dalam diam,
sedang kau tak pernah tahu
ada sungai yang karam karenamu.
Kupang, 27 Oktober 2026