Pintu yang Tak Pernah Terkunci

Karya: Yuliana Marista



Di ujung jalan yang lama kutinggalkan,
lampu-lampu senja menyalakan ingatan.
Kakiku letih memikul segala rantau,
namun hatiku tahu arah menuju rumah.
Aku pernah menyangka jauh adalah kemenangan,
bahwa langkah yang pergi selalu berarti tumbuh.
Ternyata di setiap kota yang kusinggahi,
ada sunyi yang diam-diam menyebut namamu, Ibu.
Kini kutemukan pagar kayu yang mulai lapuk,
halaman kecil tempat masa kecilku bermain,
dan pintu yang tak pernah benar-benar terkunci,
sebab sebuah doa selalu menjaganya tetap terbuka.
Aroma dapur menyambut lebih dulu daripada suara.
Tanganmu yang mengeriput menggenggam wajahku,
dan seluruh jarak yang kubawa berhari-hari
luruh menjadi air mata yang tak perlu dijelaskan.
Pulang bukan sekadar tiba di sebuah alamat.
Pulang adalah kembali menjadi diri yang utuh,
tempat segala lelah boleh berhenti,
dan aku, akhirnya, boleh menjadi anakmu lagi.


Bumiayu, 30 September 2026