Ruang yang Tak Lagi Dihuni.
Karya: Tsalsabila Safira RamadhaniGempa di dada tak bersuara,
saat koper mengunci sisa kenangan.
Hujan mencuci jejak di muka jendela,
menghapus namamu dari sudut halaman.
Aku melangkah bukan melarikan diri,
hanya menyelamatkan yang tersisa dari retak.
Ada ruang yang tak lagi bisa dihuni,
meski doa dibisikkan hingga sesak.
Di balik kaca, bayangmu makin kabur,
melambai pada takdir yang berbelok arah.
Kita adalah bangunan yang memilih lebur,
sebelum saling merobohkan dengan amarah.
Pergi bukan berarti berhenti mencintai,
kadang ia cara terakhir untuk menjaga.
Melepasmu agar utuh dalam ingatan,
dan merawat jiwa dari luka yang sama.
Bandung, 10 september 2026.