Pintu Rumah Yang Asing
Karya: Tsabita Kania AddinDalam karangan penulis ia menyombongkan manis kelopaknya
dalam asa ia harapkan takkan pernah lagi berpulang
dengan sombong bertanya pada sang remang
mengapa dalam banyaknya waktu siang
kau tetap setia menemani malam dengan cahaya remangnya
lalu ia tersenyum
karena di tempat sanalah aku menerima sejatinya dirinya
lalu duri tangkainya bergerak bertanya pada teratai
dalam banyaknya pilihan dewa
mengapa demi seribu hajat tetap setia pada lumpur
lalu ia tersenyum
karena disanalah ia menerima takdirnya
dengan lidah kering dalam kelopak dustanya
ia mendangakkan pandangan pada hamparan cakrawala
brahmana takkan berputar dari tujuannya
mawar legam yang mengutuki dirinya sebagai mawar merah
sudah telat untuk memutar arah jarum jam ke arah kiri
adakala sejati dirinya sendiri adalah menerima
berpulang kepada diri sendiri
adalah jalannya mendekap kedamaian
berpulang memeluk pintu rumah yang asing
menerima sengsara bising
Kediri, 29 September 2026