Surat kecil untuk tubuh yang lelah
Karya: Sri Naya nurmalaDi depan cermin, aku menatap orang asing.
Matanya lebam, menyimpan malam-malam panjang yang tak bertepi.
Tangannya gemetar, memikul beban yang tak pernah ia pinta.
Dan bibirnya, ah... bibir itu terlalu pandai berdusta,
Mengatakan "aku baik-baik saja" pada dunia yang kejam merata.
Wahai diri, maafkan aku.
Aku telah terlalu keras memaksamu berlari, Saat kakimu sendiri sudah berdarah dan mati rasa.
Aku sering memaki-makimu karena gagal sempurna,
Tanpa pernah bertanya
“apakah kau bahagia?”
Kini kita duduk berdua di ruangan sepi ini.
Tak ada lagi topeng yang tersisa.
Hanya ada air mata yang jatuh tanpa suara, Mencuci debu-debu kekecewaan yang lama tertumpuk di dada.
Menangislah jika kau ingin runtuh.
Rangkul dadamu sendiri yang sering retak.
Kamu sudah berjuang sejauh ini,
Bahkan ketika semesta membiarkanmu berjalan seorang diri.
Terima kasih karena tetap hidup,
Meski hari kemarin hampir membuatmu menyerah.
Aku sering memaksamu berjalan, Saat kakiku sendiri gemetar menahan beban.
Aku menyuruhmu tersenyum di depan dunia, Padahal hatiku remuk, lelah tak bersuara.
Maafkan aku, diri yang sering kulupakan, Kuhakimi kurangmu setiap malam datang.
Kutuntut kau kuat tanpa henti, Tanpa pernah bertanya
“ Apakah kau sudah mati rasa di sini?”
Hari ini, mari kita duduk sebentar, Lepas topeng yang membuatmu lelah dan terkapar.
Menangislah jika itu yang kau mau, Tak ada lagi yang menuntutmu selalu tahu.
Kau sudah bertahan sejauh ini, Menjadi rumah bagi luka yang tak bertepi.
Terima kasih karena masih bernapas, Meski hidup sering kali terasa lepas
Bekasi, 6 Agustus 2026