Perihal yang menetap di ujung senja
Karya: Sagita Zahra SusiloBukan lelah yang membuat langkah ini melambat,
melainkan sisa bayangmu yang masih saja
bersemayam di bilik ingatan.
Kita adalah dua garis lurus yang sempat bersilangan,
sebelum akhirnya semesta memilihkan arah
untuk saling melepaskan.
"Pergi", katamu waktu itu—
sebuah kata yang dipahat rapi di atas batu nisan,
bagi kita yang pernah berjanji hidup selamanya.
Kulepaskan genggaman ini bukan karena benci,
tapi karena aku tahu, ada rindu
yang justru makin suci
ketika ia belajar berdiri sendiri di tanah asing.
Dan jika suatu hari nanti,
langkah-langkah ini lelah menelusuri sunyi,
aku tidak akan mencari jalan "pulang" ke pelukanmu yang dulu.
Sebab rumah yang sebenarnya
bukan lagi tentang rupa tempatmu berada,
melainkan dadaku sendiri—
tempat di mana aku akhirnya
berdamai dengan kehilangan,
dan memeluk sunyi dengan segenap ketulusan.
Boyolali, 2 September 2026