Pulang dan Luka

Karya: Rumaisha


Aku memaksa jiwa ini untuk kembali pulang ke bangunan yang sama di mana teriakan dan pertengkaran sering terjadi. Bangunan yang sering disebut "rumah".

Banyak orang yang beranggapan bahwa rumah adalah tempat berteduh dan tempat yang paling bisa dijadikan tempat "pulang" ternyaman.

Naasnya, pandanganku berbeda. Aku tak ditakdirkan untuk mendapatkan kehangatan pulang ke rumah apalagi sambutan hangat dari kedua orang tua.

Hati ini tak bisa berbohong tentang rasa iri yang sangat besar ketika melihat orang lain sangat bahagia mendengar kata pulang dan dapat beristirahat dengan tenang di rumah.

Namun bagiku pulang berarti terkurung kembali ke sangkar penuh kaca tajam yang membuat setiap pergerakan menyebabkan luka.

Meskipun luka sudah terlalu banyak, kuharap diriku bisa tetap bangkit dan dapat merasakan arti kata "pulang" sesungguhnya.


Pasuruan, 17 September 2026