Jeda yang Sumbang

Karya: Nailil Amaniy


Derit engsel pintu bersaksi tentang penantian yang tak kunjung usai,
membendung detik yang terus bergulir dalam kehampaan.

Semestinya, langkahku tak pernah tiba di sini,
mantra lirih yang tenggelam perlahan bersama sunyi.

Kenyataan menampar, lebih keras dari ketuk metronom yang pecah,
menyisakan derak kesadaran di balik sunyi yang lebam.

Kau kacaukan irama yang pernah kita jaga,
demi menyelaraskan tempomu dengan miliknya,
meninggalkanku dalam jeda yang sumbang dan dingin.

Aku membisu, menggantungkan harap pada waktu dan keajaiban,
merawat keyakinan yang diam-diam berakar di bibir keraguan.

Hingga pergi menjelma satu-satunya jalan yang tersisa,
membiarkan keheningan mengambil alih ruang yang lama hampa.



Pamekasan, 08 September 2026