Cara Melepas Pegangan

Karya: Izzul Ubaid


Ayah,
kepergianmu bukan pintu yang tertutup, tapi jendela yang kau biarkan terbuka agar rindu menyusup, pelan-pelan, seperti cahaya subuh yang selalu kau suka.

Masih kudengar suaramu yang meninggi waktu nilai merahku kau pegang gemetar— bukan amarah, itu ketakutan seorang ayah yang tak tahu cara lain mencintai selain menjaga.

Masih terasa tanganmu di sadel sepeda, menahan goyah, lalu melepas tanpa aba-aba, "jatuh itu bagian dari belajar berdiri," katamu, sambil berjalan mundur, membiarkan aku pergi sendiri.

Ternyata begitu juga caramu pergi sekarang—diam-diam melepas, biar aku belajar berdiri tanpa genggamanmu, tanpa suaramu, hanya jejak yang kau tinggal di setiap langkah kaki.

Rumah bukan lagi tempat kau duduk, tapi setiap sudut yang menyimpan gemamu. Dan pulang bukan lagi soal kembali ke alamatmu, tapi cara aku membawa ajaranmu, ke mana pun aku pergi.

Sebab cinta yang kau tanam tak pernah benar benar pergi— ia ikut, diam-diam, dalam keberanian yang kau ajarkan, pada tiap jatuh yang kubiarkan terjadi, dan tiap kali aku memilih berdiri.


Palangkaraya, 13 September 2026