Yang Pulang Hanya Namaku

Karya: Gusti Ayu Mirah Mahardani


Di ujung jalan berbatu yang lengang,
sebuah nama tiba tanpa tubuh.
Ia mengetuk pintu yang dulu dikenalnya,
menyebut dirinya pelan, hampir berbisik.

Ibu membuka, menatap kosong ke arah angin.
“Anakku pulang,” katanya, tetapi matanya mencari
sesuatu yang tidak pernah sampai ke teras ini.

Aku pernah pergi membawa seluruh diriku,
menitipkan wajah pada foto yang menggantung,
menyimpan suara di dinding yang mulai retak.
Kini yang kembali hanyalah sepotong huruf,
nama yang tertinggal di bibir orang-orang,
dibawa pulang oleh kenangan yang lelah.

Rumah ini masih berdiri, masih mengenaliku
lewat bingkai yang mulai memudar warnanya.
Di kursi kayu itu, di meja makan itu,
ada tempat kosong yang tidak pernah terisi.

Yang pulang hanya namaku,
dan namaku tidak bisa makan malam.


Denpasar, 13 September 2026