LUKA YANG TAK BISA PERGI

Karya: GREGORINA TIARA NULE


LUKA YANG TAK BISA PERGI

Luka itu tidak pergi,
ia hanya belajar tinggal lebih rapi.

Dari tanah ia pindah ke dada,
dari dada ke doa,
dari doa ke cara kami memanggil nama.

Puing sudah bersih, tiang baru sudah tegak,
dinding retak sudah kami cat,
tapi retak itu hafal alamat kami,
hafal cara kami berlari malam itu.

Bapak bilang: sudah, jangan ingat lagi.
Mama diam, tenunnya macet pada benang putus saat lindu.
Adik tidur dengan mata terbuka,
tahu gempa datang tanpa ketuk.

Di Flores, luka tidak berteriak.
Ia mengendap seperti garam di kayu tua,
membuat semua lapuk perlahan.

Lama-lama kami mengerti,
jika tak bisa diusir, harus disapa.
Kami beri ia nama: tetangga.
Agar tak lagi mengambil,
hanya menemani kopi di beranda.


Kefamenanu, 29 September 2026