rindu menuntunku pulang
Karya: avril nadya amirahDi ujung jalan yang membentang panjang,
Ada sebuah rindu yang selalu benderang.
Meski langkah ini sering kali terasa letih,
Hati tak pernah lupa ke mana ia harus pulih.
Setiap putaran waktu yang berlalu dalam sunyi,
Membawa kepingan kenangan yang begitu murni.
Tentang senyum yang selalu menanti di beranda,
Tentang dekap hangat yang mengusir segala gulita.
Jalan setapak ini terasa begitu akrab,
Menyimpan jejak-jejak masa kecil yang lelap.
Pohon-pohon randu yang berjejer dengan rapi,
Seolah berbisik pelan menyambutku kembali.
Udara membawa aroma tanah basah dan daun kering,
Mengingatkan pada tawa yang dulu sering nyaring.
Tidak ada yang berubah dari keheningan senja ini,
Sebuah harmoni murni yang selalu menjaga janji.
Aku melihat cahaya lampu dari kejauhan,
Membelah gelapnya malam dengan kelembutan.
Asap dapur mengepul dari atap yang sederhana,
Membawa aroma masakan yang tak ada duanya.
Di sanalah doa-doa tak pernah putus dilangitkan,
Di sanalah namaku selalu disebut dalam harapan.
Rumah bukanlah sekadar tumpukan dinding dan atap,
Melainkan pelukan gaib yang membuat jiwa menetap.
Suara pintu berderit saat ku dorong perlahan,
Menyambut pandangan mata yang penuh keharuan.
Tidak ada kata yang perlu buru-buru diucapkan,
Sebab rindu yang lebat telah melebur dalam satu pelukan.
Kerutan di wajah mereka adalah peta perjalanan,
Bukti dari cinta tulus yang tak lekang oleh zaman.
Di ruang tamu ini, waktu seolah sudi berhenti,
Menyisakan damai yang meresap perlahan ke dalam hati.
Ada magis dalam setiap seduhan teh hangat,
Yang disajikan perlahan dengan senyum penuh semangat.
Setiap tegukannya adalah penawar dahaga rindu,
Menyapu bersih debu-debu jalanan yang kelabu.
Jendela kayu yang terbuka membiarkan angin merasuk,
Membawa melodi malam yang membuat jiwa takluk.
Suara jangkrik bersahutan riang di halaman depan,
Menjadi simfoni alam yang penuh dengan ketentraman.
Kini aku duduk di sudut yang paling ku suka,
Mendengar cerita-cerita lama yang kembali dibuka.
Gelak tawa mengudara, memenuhi setiap celah,
Menghapus segala gundah dan meruntuhkan rasa lelah.
Inilah harmoni sempurna yang selalu ku cari di luar sana,
Padahal ia selalu bersemayam tenang di tempat yang sama.
Pulang adalah merangkai kembali benang yang sempat terpisah,
Menemukan kembali bentuk utuh di antara puluhan kisah.
Malam semakin larut namun hangat kian terasa,
Menyelimuti jiwa dengan cinta yang begitu luar biasa.
Biarlah dunia di luar sana berputar dengan kerasnya,
Di sini, di rumah ini, aku menemukan kembali porosnya.
Di kamar yang sunyi, di ranjang yang menyapaku lembut,
Segala cemas dan takut akhirnya perlahan menyurut.
Pulang bukanlah sekadar kembali menapak ke titik awal,
Melainkan menemukan jangkar tempat jiwa bersandar kekal.
bogor 10 september 2026