Ketika Takdir Memilih Kita
Karya: YOHANA SANTIANI SATRIPernah kusangka, engkau sekadar fatamorgana,
angan yang singgah membawa luka,
lalu lenyap bersama sunyi.
Namun, takdir ternyata menuliskanmu
sebagai teduh setelah badai,
sebagai cahaya di lorong jiwaku.
Engkau hadir membawa selaut kasih,
menyulam kembali serpihan harap,
menyalakan bara semangat
yang lama padam dalam dada.
Bersamamu, aku mengerti,
bahwa aku pantas dicintai,
dihargai, dan dipeluk ketulusan.
Dahulu, aku hanya penonton
dari romantisme yang berpendar di kejauhan,
namun takdir membawaku
menjadi bagian dari kisah yang kuimpikan.
Kau berkata, cintamu sembilan puluh sembilan persen;
sempat hatiku meradang,
hingga kusadari, satu persen sisanya
kau persembahkan kepada Tuhan.
Jika takdir kembali memilih kita,
biarlah langkah ini tetap beriringan,
sebab di antara jutaan manusia,
aku menemukan rumah
pada detak jantungmu.
NTT, 15 Agustus 2026