PAHIT YANG TAK PERNAH MANIS
Karya: Nur Azizah PutriDenting-denting itu mulai bergesekan,
menciptakan suara yang memekakkan telinga.
Matahari telah berada pada porosnya,
menandai hari terang yang membawa dusta.
Dia datang, bukan lagi tanpa sebab,
melainkan menagih sisa-sisa percaya
atas sumpah setia yang kini robek tak bersisa.
Membuat jam 12 teng menjadi saksi luka.
Kami merana bukan karena menolak hadirnya,
bukan pula lelah merangkul tubuh yang gembil itu
melainkan terlalu hancur oleh kebusukan sikapnya,
yang menusuk tajam tepat di balik punggungku.
Dia bersandiwara dengan senyum paling manis,
memaksa kami percaya pada janji-janji palsu,
lupa diri siapa yang dulu mengangkat derajatnya,
siapa yang memberi kuasa di atas kursi manisnya.
Tapi kami kini hanya bisa terdiam kelu,
menelan ludah pahit di atas reruntuhan janji,
merutuki kebodohan karena sempat mempercayai,
sosok pengkhianat berbalut jubah teman sendiri.
Depok, 18 Juli 2026