Alas Kaki
Karya: Wafiq HerlianiKatanya tempat teraman
adalah bersandar di pundakmu.
Di sanalah aku titipkan semua badai,
angin, dan hujan yang tak pernah usai.
Kau jawab dengan pasti: "Aku jaga."
Aku percaya. Sepenuhnya.
Tapi pundak itu
pertama kali menoleh pergi
saat tanah di bawahku retak berantakan.
Saat nafasku tercekat di antara reruntuhan.
Kau tangkap tangan orang lain
saat lututku nyaris menyentuh tanah.
Kau bisik lirih "bertahan"
sambil perlahan kau lepas genggam.
Tanpa menoleh. Tanpa ragu.
Kini aku belajar berdiri tegak
di atas tanah yang sengaja kau goyah.
Tanpa pundak. Tanpa janji. Tanpa arah.
Hanya aku, dan bekas lukamu
yang kujadikan alas kaki setiap hari.
Agar setiap langkahku
tidak lagi menunggu siapa-siapa.
Tanjung, 08 Agustus 2026