Karya: Tri Dara Oktavia
Dulu kau sebut cinta adalah karang yang baka,
kini kalimat itu menjelma abu, luruh ke tanah prasangka.
Segala sumpah yang sempat telanjur kau ukir di dada,
kini retak menjalar, runtuh tak menyisakan apa-apa.
Kutatap sepasang matamu yang dahulu jernih mengalirkan nirmala,
kini samar menyembunyikan dusta, sepekat malam tanpa gejala.
Rupanya lengkung senyum yang kerap kau beri setiap hari,
hanyalah topeng rapuh dari sekeping luka yang kau tutup rapi.
Kau melangkah pergi tanpa ketukan pamit pada sepi,
meninggalkan labirin hati yang kini terlilit duri belati.
Bukan derai air mata yang membuat dadaku paling menyengat,
melainkan sadar yang paling benderang: kau telah berpaling arah dan kiblat.
Aku bukan lagi rumah tempatmu pulang dan berteduh dari badai,
hanya dermaga singgah yang kau tinggalkan setelah sauh selesai terurai.
Namun biarlah lebam ini kurawat sendiri dalam sunyi yang paling sunyi,
sebab pengkhianatanmu terlalu murah untuk air mata berharga yang ditangisi.
Kini kurajut kembali reruntuhan jiwa yang sempat mati pucuk,
tanpa perlu menanti kata maafmu yang tak lagi berhulu dan menunduk.
Sebab hati yang pernah kau koyak hingga berdarah-darah ini,
kelak akan sembuh sempurna—berdiri tegak memeluk diri sendiri.
Medan, 20 Agustus 2026